Postingan

Menampilkan postingan dengan label Santri dan Modernisasi

Santri dan Modernisasi (selesai)

Di tengah keprihatinan tentang 'terlibatnya' kaum santri dalam proses - yang di atas saya sebut - mencaimya substansi kesantrian maupun permissifisme integritas mereka daam mekanisme sistem-sistem sejarah saya memandang dengan optimis, salah satunya adalah Pesantren Gontor. Pesantren Gontor, sebagai suatu sistem, watak dan nuan;a, tampak sadar untuk menumbuhkan pertahanan terhalap berbagai 'ancaman' tersebut. Ia tampak bukan saja semakin mengintensifkan dan bangga akan kualitas etos santri mereka, namun juga makin jelas memiliki sikap dan independensi yang tertata di tengah gejala-gejala makro peingkufuran budaya, politik, moral serta keseluruhan peradaban sejarah tempat bersemayam mereka. Mereka secara cukup gamblang mencoba manjawab berbagai tantangan di era modernisasi demokratisasi kehidupan, redistribusi rizqullah, defeodalisasi kebudayaan, pemerdekaan (Islamisasi) segala bidang dalam pagar iradatullah, bahkan jawaban-jawaban empiris terhadap teknologisasi dan indu...

Santri dan Modernisasi (ii)

Etos Santri Sesungguhnya dengan "etos santri", kaum santri adalah penghuni garda depan dan proses sejarah peradaban manusia. Etos Santri memuat watak kegairahan dan keterbukaan terhadap ilmu, kemandirian, kemerdekaan dan sikap eksploratif, kasih dan santun mengkhaiifahi proses sejarah yang menyangkut manusia dan alam ; belum lagi substansi-substansi mendasar yang harus digenggam dengan sendirinya : taqwa, tawakal, iklas, muthi' ilallah, dan seterusnya. Kegairahan dan keterbukaan terhadap ilmu : Islam adalah shirath, thariq, syari', menglslam adalah melakukan perjalanan pengetahuan yang dinamis terus-menerus. Seiap Muslim memahami dan mengantisipasi (berguru, bersekolah) dialektika antara realitas alam (hakekat) dengan realitas sosial (syari'at), menyelenggarakan dan mengolah rekayasa-rekayasa, strategi (thariqat) seperti ide desa, negara, ideologi, sistem, metodologi dst. agar dicapai terminal-terminal pengetahuan dan pengalaman (ma'rifat) baik pada level ilmu...

Santri dan Modernisasi (iii)

Tentang Kemandirian : Kaum Santri sudah menjadi bagian pokok dari al-mudattsirun atau Kaum Berselimut alias Kaum Yang Terselimuti secara politis, ekonomis dan kultual. So, qum! Berdirilah. Mandirilah di sebanyak mungkin aspek : Abad ke 21 adalah abad kaum wiraswastawan. Hanya dengan qiyarn kaum santri sanggup memenuhi seruan Fa-andzir! Hanya-dengan kemandirian sanggup menemukan ilmunya sendiri yang relevan dan berakar alias fi aqdaail urnmahat atau ilmu dari "rahim ibu" sendiri, sanggup menciptakan pekerjaan sendiri, sanggup berukhuwah mengatasi sejarah. Kaum santri memiliki kemungkinan untuk melakukan fungsi indzar (berdakwah oral, berdemonstrasi, menegur bupati, bikin Parpol baru, memilih Presiden yang sungguh-sungguh ahlul amanah, menciptakan jamaah ekonomi, sosial, budaya politik dsb). Lantas tentang kemerdekaan dan sikap eksploratif. Islam itu beda dengan "salam yang pasif. Karena Islam adalah "kata kerja". Islam adalah pembebasan, pemerdekaan. Islam adala...

Santri dan Modernisasi (i)

"Era Modern" Apa yang kita sebut "era modern", memiliki daftar distorsi makna nilai-nilai kehidupan jauh melebihi era peradaban umat manusia sebelumnya. Borok paling serius dari "era modern" adalah inkonsistensi nilai-nilai, paradoksalisasi atau pembalikan filosofis, serta ambivalensi perilaku - personal maupun sistemik - yang disofistikasikan sedernikian rupa sehingga nampak tetap gagah dan indah. Maka ada suatu pemahaman dibawah sadar setiap bidang aktivitas, bahkan dalam pikiran setiap orang bahwa yang tidak modern adalah terbelakang, tidak maju dsb. Maka setiap orang berlomba-lomba memasuki peradaban modern. Kalau mengacu pada pemikiran Weber tentang etika protestant menurutnya adalah "Need for Achievement". Asumsi yang sama juga dianut oleh paham modemisasi dalam Islam. Keterbelakangan umat menurut mereka adalah akibat dari 'ada yang salah' dalam teologi yang dianut kaum Muslimin. Mereka menuduh teologi tradisional sebagai penyebab m...